jump to navigation

Ta’aruf Syar’i, Solusi Pengganti Pacaran December 15, 2007

Posted by admin in 1. Pra Nikah, Tanya Jawab.
trackback

Al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad Al-Makassari

Pertanyaan:
1. Apabila seorang muslim ingin menikah, bagaimana syariat mengatur cara mengenal seorang muslimah sementara pacaran terlarang dalam Islam?
2. Bagaimana hukum berkunjung ke rumah akhwat (wanita) yang hendak dinikahi dengan tujuan untuk saling mengenal karakter dan sifat masing-masing?
3. Bagaimana hukum seorang ikhwan (lelaki) mengungkapkan perasaannya (sayang atau cinta) kepada akhwat (wanita) calon istrinya?

Jawab :

Benar sekali pernyataan anda bahwa pacaran adalah haram dalam Islam. Pacaran adalah budaya dan peradaban jahiliah yang dilestarikan oleh orang-orang kafir negeri Barat dan lainnya, kemudian diikuti oleh sebagian umat Islam (kecuali orang-orang yang dijaga oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala), dengan dalih mengikuti perkembangan jaman dan sebagai cara untuk mencari dan memilih pasangan hidup. Syariat Islam yang agung ini datang dari Rabb semesta alam Yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana, dengan tujuan untuk membimbing manusia meraih maslahat-maslahat kehidupan dan menjauhkan mereka dari mafsadah-mafsadah yang akan merusak dan menghancurkan kehidupan mereka sendiri.

Ikhtilath (campur baur antara lelaki dan wanita yang bukan mahram), pergaulan bebas, dan pacaran adalah fitnah (cobaan) dan mafsadah bagi umat manusia secara umum, dan umat Islam secara khusus, maka perkara tersebut tidak bisa ditolerir. Bukankah kehancuran Bani Israil –bangsa yang terlaknat– berawal dari fitnah (godaan) wanita? Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Telah terlaknat orang-orang kafir dari kalangan Bani Israil melalui lisan Nabi Dawud dan Nabi ‘Isa bin Maryam. Hal itu dikarenakan mereka bermaksiat dan melampaui batas. Adalah mereka tidak saling melarang dari kemungkaran yang mereka lakukan. Sangatlah jelek apa yang mereka lakukan.” (Al-Ma`idah: 79-78)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau (indah memesona), dan Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kalian sebagai khalifah (penghuni) di atasnya, kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala memerhatikan amalan kalian. Maka berhati-hatilah kalian terhadap dunia dan wanita, karena sesungguhnya awal fitnah (kehancuran) Bani Israil dari kaum wanita.” (HR. Muslim, dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memperingatkan umatnya untuk berhati-hati dari fitnah wanita, dengan sabda beliau:

“Tidaklah aku meninggalkan fitnah sepeninggalku yang lebih berbahaya terhadap kaum lelaki dari fitnah (godaan) wanita.” (Muttafaqun ‘alaih, dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma)

Maka, pacaran berarti menjerumuskan diri dalam fitnah yang menghancurkan dan menghinakan, padahal semestinya setiap orang memelihara dan menjauhkan diri darinya. Hal itu karena dalam pacaran terdapat berbagai kemungkaran dan pelanggaran syariat sebagai berikut:

1. Ikhtilath, yaitu bercampur baur antara lelaki dan wanita yang bukan mahram. Padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjauhkan umatnya dari ikhtilath, sekalipun dalam pelaksanaan shalat. Kaum wanita yang hadir pada shalat berjamaah di Masjid Nabawi ditempatkan di bagian belakang masjid. Dan seusai shalat, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiam sejenak, tidak bergeser dari tempatnya agar kaum lelaki tetap di tempat dan tidak beranjak meninggalkan masjid, untuk memberi kesempatan jamaah wanita meninggalkan masjid terlebih dahulu sehingga tidak berpapasan dengan jamaah lelaki. Hal ini ditunjukkan oleh hadits Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha dalam Shahih Al-Bukhari. Begitu pula pada hari Ied, kaum wanita disunnahkan untuk keluar ke mushalla (tanah lapang) menghadiri shalat Ied, namun mereka ditempatkan di mushalla bagian belakang, jauh dari shaf kaum lelaki. Sehingga ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam usai menyampaikan khutbah, beliau perlu mendatangi shaf mereka untuk memberikan khutbah khusus karena mereka tidak mendengar khutbah tersebut. Hal ini ditunjukkan oleh hadits Jabir radhiyallahu ‘anhu dalam Shahih Muslim.
Bahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sebaik-baik shaf lelaki adalah shaf terdepan dan sejelek-jeleknya adalah shaf terakhir. Dan sebaik-baik shaf wanita adalah shaf terakhir, dan sejelek-jeleknya adalah shaf terdepan.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata: “Hal itu dikarenakan dekatnya shaf terdepan wanita dari shaf terakhir lelaki sehingga merupakan shaf terjelek, dan jauhnya shaf terakhir wanita dari shaf terdepan lelaki sehingga merupakan shaf terbaik. Apabila pada ibadah shalat yang disyariatkan secara berjamaah, maka bagaimana kiranya jika di luar ibadah? Kita mengetahui bersama, dalam keadaan dan suasana ibadah tentunya seseorang lebih jauh dari perkara-perkara yang berhubungan dengan syahwat. Maka bagaimana sekiranya ikhtilath itu terjadi di luar ibadah? Sedangkan setan bergerak dalam tubuh Bani Adam begitu cepatnya mengikuti peredaran darah . Bukankah sangat ditakutkan terjadinya fitnah dan kerusakan besar karenanya?” (Lihat Fatawa An-Nazhar wal Khalwah wal Ikhtilath, hal. 45)

Subhanallah. Padahal wanita para shahabat keluar menghadiri shalat dalam keadaan berhijab syar’i dengan menutup seluruh tubuhnya –karena seluruh tubuh wanita adalah aurat– sesuai perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surat Al-Ahzab ayat 59 dan An-Nur ayat 31, tanpa melakukan tabarruj karena Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang mereka melakukan hal itu dalam surat Al-Ahzab ayat 33, juga tanpa memakai wewangian berdasarkan larangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Abu Hurairah yang diriwayatkan Ahmad, Abu Dawud, dan yang lainnya :

“Hendaklah mereka keluar tanpa memakai wewangian.”
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga melarang siapa saja dari mereka yang berbau harum karena terkena bakhur untuk untuk hadir shalat berjamaah sebagaimana dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam surat Al-Ahzab ayat 53:

“Dan jika kalian (para shahabat) meminta suatu hajat (kebutuhan) kepada mereka (istri-istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam) maka mintalah dari balik hijab. Hal itu lebih bersih (suci) bagi kalbu kalian dan kalbu mereka.”

Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan mereka berinteraksi sesuai tuntutan hajat dari balik hijab dan tidak boleh masuk menemui mereka secara langsung. Asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahullah berkata: “Maka tidak dibenarkan seseorang mengatakan bahwa lebih bersih dan lebih suci bagi para shahabat dan istri-istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan bagi generasi-generasi setelahnya tidaklah demikian. Tidak diragukan lagi bahwa generasi-generasi setelah shahabat justru lebih butuh terhadap hijab dibandingkan para shahabat, karena perbedaan yang sangat jauh antara mereka dalam hal kekuatan iman dan ilmu. Juga karena persaksian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap para shahabat, baik lelaki maupun wanita, termasuk istri-istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri bahwa mereka adalah generasi terbaik setelah para nabi dan rasul, sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim. Demikian pula, dalil-dalil Al-Qur`an dan As-Sunnah menunjukkan berlakunya suatu hukum secara umum meliputi seluruh umat dan tidak boleh mengkhususkannya untuk pihak tertentu saja tanpa dalil.” (Lihat Fatawa An-Nazhar, hal. 11-10)

Pada saat yang sama, ikhtilath itu sendiri menjadi sebab yang menjerumuskan mereka untuk berpacaran, sebagaimana fakta yang kita saksikan berupa akibat ikhtilath yang terjadi di sekolah, instansi-instansi pemerintah dan swasta, atau tempat-tempat yang lainnya. Wa ilallahil musytaka (Dan hanya kepada Allah kita mengadu)
2. Khalwat, yaitu berduaannya lelaki dan wanita tanpa mahram. Padahal Rasululllah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Hati-hatilah kalian dari masuk menemui wanita.” Seorang lelaki dari kalangan Anshar berkata: “Bagaimana pendapatmu dengan kerabat suami? ” Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Mereka adalah kebinasaan.” (Muttafaq ‘alaih, dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

“Jangan sekali-kali salah seorang kalian berkhalwat dengan wanita, kecuali bersama mahram.” (Muttafaq ‘alaih, dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma)
Hal itu karena tidaklah terjadi khalwat kecuali setan bersama keduanya sebagai pihak ketiga, sebagaimana dalam hadits Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma:

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka jangan sekali-kali dia berkhalwat dengan seorang wanita tanpa disertai mahramnya, karena setan akan menyertai keduanya.” (HR. Ahmad)

3. Berbagai bentuk perzinaan anggota tubuh yang disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:

“Telah ditulis bagi setiap Bani Adam bagiannya dari zina, pasti dia akan melakukannya, kedua mata zinanya adalah memandang, kedua telinga zinanya adalah mendengar, lidah(lisan) zinanya adalah berbicara, tangan zinanya adalah memegang, kaki zinanya adalah melangkah, sementara kalbu berkeinginan dan berangan-angan, maka kemaluan lah yang membenarkan atau mendustakan.”

Hadits ini menunjukkan bahwa memandang wanita yang tidak halal untuk dipandang meskipun tanpa syahwat adalah zina mata . Mendengar ucapan wanita (selain istri) dalam bentuk menikmati adalah zina telinga. Berbicara dengan wanita (selain istrinya) dalam bentuk menikmati atau menggoda dan merayunya adalah zina lisan. Menyentuh wanita yang tidak dihalalkan untuk disentuh baik dengan memegang atau yang lainnya adalah zina tangan. Mengayunkan langkah menuju wanita yang menarik hatinya atau menuju tempat perzinaan adalah zina kaki. Sementara kalbu berkeinginan dan mengangan-angankan wanita yang memikatnya, maka itulah zina kalbu. Kemudian boleh jadi kemaluannya mengikuti dengan melakukan perzinaan yang berarti kemaluannya telah membenarkan; atau dia selamat dari zina kemaluan yang berarti kemaluannya telah mendustakan. (Lihat Syarh Riyadhis Shalihin karya Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, pada syarah hadits no. 16 22)

Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Dan janganlah kalian mendekati perbuatan zina, sesungguhnya itu adalah perbuatan nista dan sejelek-jelek jalan.” (Al-Isra`: 32)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

“Demi Allah, sungguh jika kepala salah seorang dari kalian ditusuk dengan jarum dari besi, maka itu lebih baik dari menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” (HR. Ath-Thabarani dan Al-Baihaqi dari Ma’qil bin Yasar radhiyallahu ‘anhu, dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 226)

Meskipun sentuhan itu hanya sebatas berjabat tangan maka tetap tidak boleh. Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:

“Tidak. Demi Allah, tidak pernah sama sekali tangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyentuh tangan wanita (selain mahramnya), melainkan beliau membai’at mereka dengan ucapan (tanpa jabat tangan).” (HR. Muslim)

Demikian pula dengan pandangan, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman dalam surat An-Nur ayat 31-30:

“Katakan (wahai Nabi) kepada kaum mukminin, hendaklah mereka menjaga pandangan serta kemaluan mereka (dari halhal yang diharamkan) –hingga firman-Nya- Dan katakan pula kepada kaum mukminat, hendaklah mereka menjaga pandangan serta kemaluan mereka (dari hal-hal yang diharamkan)….”

Dalam Shahih Muslim dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata:

“Aku bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang pandangan yang tiba-tiba (tanpa sengaja)? Maka beliau bersabda: ‘Palingkan pandanganmu’.”

Adapun suara dan ucapan wanita, pada asalnya bukanlah aurat yang terlarang. Namun tidak boleh bagi seorang wanita bersuara dan berbicara lebih dari tuntutan hajat (kebutuhan), dan tidak boleh melembutkan suara. Demikian juga dengan isi pembicaraan, tidak boleh berupa perkara-perkara yang membangkitkan syahwat dan mengundang fitnah. Karena bila demikian maka suara dan ucapannya menjadi aurat dan fitnah yang terlarang. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Maka janganlah kalian (para istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam) berbicara dengan suara yang lembut, sehingga lelaki yang memiliki penyakit dalam kalbunya menjadi tergoda dan ucapkanlah perkataan yang ma’ruf (baik).” (Al-Ahzab: 32)

Adalah para wanita datang menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan di sekitar beliau hadir para shahabatnya, lalu wanita itu berbicara kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan kepentingannya dan para shahabat ikut mendengarkan. Tapi mereka tidak berbicara lebih dari tuntutan hajat dan tanpa melembutkan suara.

Dengan demikian jelaslah bahwa pacaran bukanlah alternatif yang ditolerir dalam Islam untuk mencari dan memilih pasangan hidup. Menjadi jelas pula bahwa tidak boleh mengungkapkan perasaan sayang atau cinta kepada calon istri selama belum resmi menjadi istri. Baik ungkapan itu secara langsung atau lewat telepon, ataupun melalui surat. Karena saling mengungkapkan perasaan cinta dan sayang adalah hubungan asmara yang mengandung makna pacaran yang akan menyeret ke dalam fitnah. Demikian pula halnya berkunjung ke rumah calon istri atau wanita yang ingin dilamar dan bergaul dengannya dalam rangka saling mengenal karakter dan sifat masing-masing, karena perbuatan seperti ini juga mengandung makna pacaran yang akan menyeret ke dalam fitnah. Wallahul musta’an (Allah-lah tempat meminta pertolongan).

Adapun cara yang ditunjukkan oleh syariat untuk mengenal wanita yang hendak dilamar adalah dengan mencari keterangan tentang yang bersangkutan melalui seseorang yang mengenalnya, baik tentang biografi (riwayat hidup), karakter, sifat, atau hal lainnya yang dibutuhkan untuk diketahui demi maslahat pernikahan. Bisa pula dengan cara meminta keterangan kepada wanita itu sendiri melalui perantaraan seseorang seperti istri teman atau yang lainnya. Dan pihak yang dimintai keterangan berkewajiban untuk menjawab seobyektif mungkin, meskipun harus membuka aib wanita tersebut karena ini bukan termasuk dalam kategori ghibah yang tercela. Hal ini termasuk dari enam perkara yang dikecualikan dari ghibah, meskipun menyebutkan aib seseorang. Demikian pula sebaliknya dengan pihak wanita yang berkepentingan untuk mengenal lelaki yang berhasrat untuk meminangnya, dapat menempuh cara yang sama.

Dalil yang menunjukkan hal ini adalah hadits Fathimah bintu Qais ketika dilamar oleh Mu’awiyah bin Abi Sufyan dan Abu Jahm, lalu dia minta nasehat kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka beliau bersabda:

“Adapun Abu Jahm, maka dia adalah lelaki yang tidak pernah meletakkan tongkatnya dari pundaknya . Adapun Mu’awiyah, dia adalah lelaki miskin yang tidak memiliki harta. Menikahlah dengan Usamah bin Zaid.” (HR. Muslim)

Para ulama juga menyatakan bolehnya berbicara secara langsung dengan calon istri yang dilamar sesuai dengan tuntunan hajat dan maslahat. Akan tetapi tentunya tanpa khalwat dan dari balik hijab. Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin dalam Asy-Syarhul Mumti’ (130-129/5 cetakan Darul Atsar) berkata: “Bolehnya berbicara dengan calon istri yang dilamar wajib dibatasi dengan syarat tidak membangkitkan syahwat atau tanpa disertai dengan menikmati percakapan tersebut. Jika hal itu terjadi maka hukumnya haram, karena setiap orang wajib menghindar dan menjauh dari fitnah.”

Perkara ini diistilahkan dengan ta’aruf. Adapun terkait dengan hal-hal yang lebih spesifik yaitu organ tubuh, maka cara yang diajarkan adalah dengan melakukan nazhor, yaitu melihat wanita yang hendak dilamar. Nazhor memiliki aturan-aturan dan persyaratan-persyaratan yang membutuhkan pembahasan khusus .

Wallahu a’lam.

Sumber : http://www.asysyariah.com

Comments»

1. kcy - December 31, 2007

Alhamdulillah bertambah pula ilmu ku..

Jazakumullahu khair

2. marinawati - April 28, 2009

Jazakillah atas artikelnya, sangat membantu sekali dalam menjalani hidup secara islami…

3. Ani - May 6, 2009

Alhamdulìlah, minta doa untuk disegerakan mendapat pendamping yg soleh, dan yg terbaik dimata Allah. Dan aku dapat tahu orang yg tepat itu…

4. ucie - May 7, 2009

Syukron atas penjelasan terhadap nikah? tetapi ana masih banyak pertanyaan kepda tema ini…..
sekali lagi syukron….

5. 'aini - May 14, 2009

assalamu’aliakum
alhamdulillah ,bertambah lagi ilmu saya yang ingin megetahui islam lebih dalam dan lengkap
syukron.

6. agus - May 23, 2009

assalamu`alaikum
akh,saya ikutan download artikelnya semoga bermanfaat bagi semua
amin

7. hijau-lumut - June 9, 2009

Assalamu’aikum wr. wb.
Bagus artikelnya. Alhamdulillah ada pencerahan mengenai pernikahan. Syukron infonya, akh..🙂

8. USWATUN HSNH. - June 15, 2009

SUNGGUH SNGGT BRMANFAAT ARTIKELNYA MG BS JD PEDOMAN BAGI SMUA.

9. Ochie - June 16, 2009

Its really inspiring article…thanks

10. Zaenal - July 10, 2009

Alhamdulillah… Jazakumullah khairan akhi …

bermanfaat sekali artikelnya…

mudah2n Allah Azza wa Jalla memberikan pendamping hidup yang mengerti Agama ini … Amin

11. apriansyah eka saputra - July 18, 2009

tolong doakan semoga mendapat istri yang soleha..

12. zu_zy - August 13, 2009

Smoga diri q bisa mengikuti jejak rosulluloh,untuk menjaga jarak dengan lawan jenis..Smoga ALLAH Subhaanahu wa Ta’ala memberikan hidayahnya kepada para pembaca rubrik ini..amin

13. FAISAL - August 17, 2009

alhamdulillah satu lagi ilmu yang kudapat,untuk membentengiku dari perbuatanyg salah..

14. iyut - August 22, 2009

assalamu’alaikum wr.wb

alhamdulilahhirobil’alamin.semoga dengan penjelasan ini membuat aku semakin mantap pada pendirianku untuk menjaga diridengan sebaik2nya

15. BriNa - August 25, 2009

Assalamualaikum…
Alhamdulillah tambah ilmu lagi.
Semoga Allah senantiasa menjaga saya dari perbuatan yang tidak ada tuntunannya dalam Islam.Amin…

16. Rizqa - September 13, 2009

Assalamu’alaikum. .
Alhamdulalliah, akhrnya sya mndpat pngtahuan lgi soal ini. Syukran!!🙂
Sya akn lbih mnjga diri dgn sebaik baik mgkn..

17. ummu hanifah - September 16, 2009

Semoga Alloh senantiasa menjaga diri dan agamaku. amin. izin download. Syukron.

18. Febri - September 26, 2009

alhamdulillah,,,terima kasih ya Allah

19. Kuncara Setia Widada - October 16, 2009

alhamdullillah, wasyukurillah aku terpaksa kopi krn butuh untuk referensi jika diperlukan. Mkc

20. izad - October 24, 2009

alhamdulillah bertambah ilmu ku…
semoga Allah senantiasa mlindungi ku dr godaan setan….
aminn…

21. Ukhti Mega Aditia - November 7, 2009

ASSALAMUALAIKUM WR.WB

Semoga Allah senantiasa memberi kita petunjuk kepada umatnya yg beriman.Semoga jalan ta’aruf dapat mengganti pacaran.
Ta’aruf yes Khalwat NO
artikelnya bagus, sukron atas 1 ilmu yg bermanfaat.semoga antum mendapat berkah dari Allah.Semoga dahwah ini terus berlanjut.amin.

jazakumullah khairan

wassalamualaikum wr.wb

22. siti - November 10, 2009

assalamu’alaikum…
alhandulillah… makasih ya… pak…

23. Hama ALLAH - November 18, 2009

ALHAMDULILLAH, pencerah dimalam hari . . syukron

24. marum ulfah - December 3, 2009

Astaghfirullah, oooooo q jdi tahu! mudah-mudahan Allah masih membuka pintu taubatnya untuk seorg hamba yang hina dina ini.

25. Sari - December 9, 2009

Assalamualaikum warrahmatullahiwabarakatuh
Mohon doa dari teman2 agar saya mendapatkan jodoh yang sholeh,yang bisa jadi Imam nantinya

26. mimin - December 26, 2009

thx for azwar yg ngasih tahu info website..hee

27. NIYA AQUR NIYA - January 10, 2010

Alhamdulillah…
skr sy makin mantap dan mngerti .. mkna tentang ta’ruf …
krena sy , skarang sdang mnjalaninya …

28. Noor - January 15, 2010

Sungguh indah tuntutan Islam… semoga Allah Jalla Wa’ala selalu menuntun kita dalam jalanNya.

29. Rabiah - January 30, 2010

Semoga aku mendapatkan orang yang tepat dan bisa membimbing aku kejalan SyurgaMu Ya Rabb.

30. dika - February 10, 2010

alhamdulilah ,…. dengan artikel ini saya merasa lebih tenang untuk menyikapi hidup ini … dan terhindar dari pikiran yang penuh kekotoran..

31. Ana - February 10, 2010

Assalamualaikum… Jazakallah ustad atas penjelasannya… izin share… untuk temen2… barakallahufik..

Wa’alaykumussalam warohmatullah wabarokatuh. Afwan, kami hanyalah penuntut ilmu yang mencoba menyebarkan artikel yang bermanfaat bagi diri kami terutama bagi kaum muslimin dalam masalah seputar pernikahan. Wafiykum barokallah

32. umair - March 7, 2010

bismillah>>>

ust ana izin copy ya en ana share di fb boleh ya
jazakallahu khoiron

33. adji - March 22, 2010

terimakasih atas uraian yang menurut saya lebih dari cukup ini

34. moernie - April 17, 2010

Jadi tmbah pngethuan..

35. ahmad - April 21, 2010

bismillah…izin copas…jazakallahu khaer..

36. arif - April 22, 2010

izin copy, jazakallahu khoiron

37. aly - May 2, 2010

izin copy paste ke blog saya biar bisa di baca di blog sendiri

38. nurwakhidah - June 6, 2010

subhanallah … semoga bisa mempraktekan .trimkasih izin copy

39. nikahmuda - June 7, 2010

Bismillah ..
Izin share akhi, buat blog ana.
Jazakallahu khairan

40. ricki setiawan - July 22, 2010

bnyak hal yang perlu dibenahi mdh2 an apa yang telah dipaparkan akan bermanfaaat dalam menjalani hidup yang hanya sementara ini yang pada dasarnya kita semua tidak tau kapan semua ini akan berakhir…^_^

41. suherni - July 31, 2010

Doakan ya moga dapat pendamping yang tebaik di dunia ini…..amin

InsyaAllah, semoga Allah mudahkan

42. aang s edi - August 1, 2010

alhamdulillah jd tau deh skarang,apa yg menjadi bleh dan tidak’y pacaran…
smoga aq bs kuat dlm iman dan pendirian amiiin..

43. pemi - August 14, 2010

alhamdulilah
dengan penjelasan nie]
saya bisa taaruf dengan yg terdeket saya
semoga taaruf nie bagi kaum muslim yang ingin taaruf dapt ada hikmah ya

44. nur alfiyah siregar - November 7, 2010

alhamdulilah…..
saiia bisa menjalani
berkat inie saiia bisa tau ttng taruf,,,,,
semoga saiia bisa taruf dengan orang orang terdekat saiia …..

45. rista - December 27, 2010

doakan semoga saya dapat suami sholeh
setidaknya suami yg mau berjuang untuk lebih baik di jalan Allah SWT
karena kadang terbesit keinginan menikah muda krn umur saya masih 18 tahun

46. Hidayat Amin - January 24, 2011

Astagfirullah……. Ampunilah dosa hamba y Robb yang telah melampaui batas dalam berpacaran, sedang berpacaran itu sendiri dilarang…….
Alhamdulillah, terima kasih untuk artikelnya.. smoga kita menjadi manusia yang lebih baik dhadapan Allah.. Aminnn

47. sgdhs - February 10, 2011

alhamdulillah
semoga kita semua dpt menjalankan na

48. Umaroh - September 10, 2011

Astaghfirullah…3X
Begitu besar dosa hamba di hadapanMu ya Alloh,,, ampunkan dosa hamba ya Alloh,, karena tanpa ampunanMu, tiada berarti hidup ini ya Alloh…

syukron. Jazakumullah khoir buat ilmunya… Sangat bermanfaat….

Bimbinglah kami di jalan lurusMu ya Alloh…. agar kami bisa menjalankan perintahMu dg benar…. & mendapatkan ridhoMu. .aamiin…

49. Lulu Aspiyatun - September 29, 2011

Subhanallah.. artikel ini mengingtkan memory saya ketika belajar di Madrasah dulu…. Subhanallah…. alhamdulillah.. Semoga Allah senantiasa melindungi kita dan memberikan kekuatan iman agar senantiasa istiqamah…. dan diberi kekuatan untuk mengamalkannya.. Amiin…

50. Pipit eka syafitri - December 16, 2011

Terimakasih ya artikelnya dapat memberikan ilmu yg bermanfaat untuk saya….

51. zully - December 21, 2011

subhanallah.. artikel yang begitu memotivasi untuk menjadi muslimah yang lebih baik di mata Allah SWT (Subhanahu wa Ta’aala)

52. MELYANI - March 20, 2012

Subhanallah… artikel yg sangat bermanfaat tuk kaum muslim

53. Yunita chaem - April 7, 2012

Jazakumulloh khairan katsiran bwt ilmunya..

54. Sari - November 24, 2012

Syukur ALHAMDULILLAH,,,
TERJAWABLAH SUDAH.🙂

55. Aisyah Istiqamah Ass'adah - February 18, 2014

Semoga bisa jadi tuntunan buat ku melangkah..Amin Ya Allah:)

terimakasih:)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: